Senin, 02 Juli 2012

1. SEJARAH TEORI BIG FIVE



1. SEJARAH TEORI BIG FIVE
            Teori Big Five pertama sekali diperkenalkan oleh Lewis R. Goldberg pada tahun 1981. Salah satu tokoh yang mengembangkan teori Big Five ini adalah Allport. Allport melakukan penelitiannya dengan bergantung pada hipotesis Lexical. Orang yang pertama kali mengemukakan hipotesis ini adalah Sir Francis Galton. Beliau menyatakan bahwa perbedaan individual yang paling penting akan ditandai dalam bahasa.
            Selain Sir Francis Galton maupun Allport, istilah trait-deskriptif dari Allport dan Odbert digunakan sebagai awal analisis struktur kepribadian oleh Raymond Cattell. Goldberg juga menyatakan bahwa Cattell adalah bapak intelektual dari teori Big Five.
Terdapat 3 tokoh yang mempelopori teori Big Five ini, yaitu :
  • Paul T. Costa, Jr.
Paul T. Costa lahir di Franklin New Hampshire pada tahun 1942. Dia dan Robert McCrae mulai berkolaborasi pada tahun 1976. Dia menerima gelar sarjana Psikologi nya dari Universitas Clark dan gelar dokter di Human Development Universitas Chicago. Setelah posisi akademik nya di Harvard dan Universitas Massachusetts di Boston, dia bergabung dengan NIA untuk meresmikan Stress and Coping section. Dari tahun 1985 sampai 2009 ia adalah Kepala Laboratorium Kepribadian dan Kognisi (Sekarang Laboratorium Behavioral Neuroscience). Minat penelitiannya termasuk pengembangan dewasa, penilaian kepribadian, dan penyakit Alzheimer.
  • Robert R. McCrae
            Robert R. McCrae lahir di Maryville, Missouri pada tahun 1949, anak bungsu dari 3 bersaudara. Adalah seorang psikolog kepribadian yang melakukan penelitian penuh di Program Intramural dari National Institute on Aging. Minat penelitiannya termasuk struktur kepribadian, penilaian, dan umur pengembangan; pengaruh ciri kepribadian terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan, dan universalitas lintas budaya dari ciri kepribadian. Dia menerima gelar BA dalam bidang Filsafat dari Michigan State University dan gelar Ph.D di Psikologi Kepribadian dari Universitas Boston.
  • Lewis R. Goldberg
Lewis R. Goldberg adalah seorang psikologis kepribadian dari Amerika dan seorang emeritus di Universitas Oregon yang sangat erat kaitannya dengan teori Big Five taksonomi kepribadian. Pada tahun 1953 dia menerima gelar A.B dalam hubungan sosial dari Universitas Harvard. Ia mendapatkan gelar Ph. D dari psikologi di Universitas Michigan pada tahun 1958. Setelah menerima gelar dokternya, dia menjadi asisten professor dan bekerja di Universitas Stanford. Sejak 1960 dia mengajar di Universitas Oregon, dimana dia adalah Professor Emeretus. Dan Goldberg juga sudah menerbitkan lebih dari 100 artikel penelitian. 
Zaman sekarang, trait-trait pada teori Big Five yang masih berlaku adalah :
  1. Openness (O)
  2. Conscientiousness (C)
  3. Ekstraversion (E)
  4. Agreeableness (A)
  5. Neuroticism (N)
           Trait tersebut dikemukakan oleh Robert R. Mccrae dan juga Paul T. Costa. Kelima trait tersebut biasanya disingkat menjadi OCEAN.

2. DEFINISI KEPRIBADIAN
  • Lewis Goldberg
Manusia dibedakan kepada karakter-karekter serta kepribadian yang dipunyai oleh setiap individu. Masing-masing memiliki ciri-ciri tersendiri, sikap, dan pola berfikir sendiri yang banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungan mereka dibesarkan dan bentuk pendidikan yang diperoleh. Teori-teori kepribadian yang ditonjolkannya adalah dimensi-dimensi kepribadian yang mungkin dipunyai oleh semua manusia di dunia ini, yaitu OCEAN; Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness.
  • Paul T.Costa. Jr
Kepribadian merupakan penentu penting dari cara-cara orang menghadapi stres.
  • Robert R.McCrae
Kepribadian adalah dimensi perbedaan individu dalam kecenderungan untuk menunjukkan pola konsisten dari pikiran, perasaan, dan tindakan. Mereka mempengaruhi interaksi pribadi dan dukungan sosial, kebiasaan kesehatan dan keluhan somatik, sikap dan nilai-nilai, cara mengatasi, kepentingan kerja dan rekreasi, dan banyak lagi.
              

3. STRUKTUR KEPRIBADIAN
Perkembangan kepribadian big five sangat pesat dalam berbagai riset kepribadian. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa banyak hal yang mampu diprediksi dengan trait-trait dalam kepribadian big five. Ciri-ciri kepribadian yang diklasifikasikan ke dalam lima faktor:
1. Extraversion (Ekstraversi)
Menilai kuantitas dan intensitas interaksi interpersonal, level aktivitasnya, kebutuhan untuk didukung, kemampuan untuk berbahagia. Dimensi ini menunjukkan tingkat kesenangan seseorang akan hubungan. Kaum ekstravert cenderung ramah dan terbuka serta menghabiskan banyak waktu untuk mempertahankan dan menikmati sejumlah hubungan. Sementara kaum introvert cenderung tidak sepenuhnya terbuka dan memiliki hubungan yang lebih sedikit dan tidak seperti kebanyakan orang lain, mereka lebih senang dengan kesendirian.

2. Agreeableness (Keramahan)
Menilai kualitas orientasi individu dengan kontinum nilai dari lemah lembut sampaiantagonis didalam berpikir, perasaan dan perilaku. Dimensi ini merujuk kepada kecenderungan seseorang untuk tunduk kepada orang lain. Orang yang mampu bersepakat, jauh lebih menghargai harmoni daripada ucapan atau cara mereka. Mereka tergolong orang yang kooperatif dan percaya pada orang lain. Orang yang menilai rendah kemampuan untuk bersepakat, memusatkan perhatian lebih pada kebutuhan mereka sendiri ketimbang kebutuhan orang lain.

3. Conscientiousness (Kesadaran)
Menilai kemampuan individu didalam organisasi, baik mengenai ketekunan dan motivasi dalam mencapai tujuan sebagai perilaku langsungnya. Sebagai lawannya menilai apakah individu tersebut tergantung, malas dan tidak rapi. Dimensi ini merujuk pada jumlah tujuan yang menjadi pusat perhatian seseorang. Orang yang mempunyai skor tinggi cenderung mendengarkan kata hati dan mengejar sedikit tujuan dalam satu cara yang terarah dan cenderung bertanggung jawab, kuat bertahan, tergantung, dan berorientasi pada prestasi. Sementara yang skornya rendah, ia akan cenderung menjadi lebih kacau pikirannya,mengejar banyak tujuan, dan lebih edonistik (Robbins, 2001).

4. Neuroticism (Neurotisme)
Trait ini menilai kestabilan dan ketidakstabilan emosi.Mengidentifikasi kecenderungan individu apakah individu tersebut mudah mengalami stres, mempunyai ide-ide yang tidak realistis, mempunyai coping response yang mal adaptif. Dimensi ini menampung kemampuan seseorang untuk menahan stres. Orang dengan kemantapan emosional positif cenderung berciri tenang, bergairah dan aman. Sementara mereka yang skornya negatif tinggi cenderung tertekan, gelisah dan tidak aman.

5. Openness to experience (Keterbukaan akan pengalaman baru)
Menilai usahanya secara proaktif dan penghargaannya terhadap pengalaman demi kepentingannya sendiri. Menilai bagaimana ia menggali sesuatu yang baru dan tidak biasa. Dimensi ini mengarah tentang minat seseorang. Seseorang yang terpesona oleh hal baru dan inovasi, ia akan cenderung menjadi imajinatif, benar-benar sensitif dan intelek. Sementara orang yang disisi lain kategori ini keterbukaannya terlihat lebih konvensional dan menemukan kesenangan dalam keakraban.

4. DINAMIKA PROSES KEPRIBADIAN TEORI THE BIG
Allport percaya bahwa sifat merupakan unit dasar kepribadian. Menurutnya, sebenarnya sifat itu ada dan berkedudukan di sistem saraf. Mereka mempresentasikan disposisi kepribadian umum yang menjelaskan keteraturan fungsi seseorang dari satu situasi ke situasi yang lain dan dari satu waktu ke waktu yang lain.
Baik teori Eysenck maupun Cattell memiliki asumsi yang sama tentang karakteristik alamiah sifat kepribadian dan kegunaan analisis faktor dalam mengidentifikasikan sifat seseorang. Diantara ketiga tokoh pendekatan trait terdapat pandangan mengenai penggunaan faktor analisa, mengenai jumlah dan dimensi sifat dasar yang diperlukan untuk mampu mendeskripsikan kepribadian.
Dari sini big five personality mulai ditemukan. Pada awalnya diperkenalkan oleh Lewis R.Goldberg. Mula-mula hanya ditemukan tiga trait, yang diantarnya yaitu neuroticism, extraversion, openness. Lalu, teorinya tersebut dikembangkan oleh Paul T.Costa dan Robert R McCrae dengan menambahkan dua trait lagi agar tedapat lima trait yang sesuai dengan sebutan Big Five. Kedua trait tersebut yaitu agreeblesness dan conscientiousness.

5. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN TEORI THE BIG FIVE
Kepribadian seseorang dipengaruhi oleh unsur nature dan nurture. Hal inilah yang menyebabkan setiap individu memberikan respons yang berbeda pada setiap stimulus atau tindakan yang dilakukan kepadanya. Secara umum periset Big five telah memfokuskan karya mereka pada stabilisasi dan perubahan-perubahan kepribadian.
Extraversion(ekstrafensi), agreeableness(persetujuan), conscientiousness (hati nurani), neuroticism(neoritisme), dan openess(keterbukaan) adalah sifat-sifat yang ada dalam teori Big five. Traits ini ada karena banyak analis muncul dari kepribadian manusia yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Model ini muncul dari analisis faktor kata sifat yang digunakan untuk menggambarkan kepribadian dan dari analisis faktor berbagai tes dan skala kperibadian yang setara. Pendekatan big five terhadap kepribadian kebanyakan  didasarkan pada penelitian-penelitian, yang didasarkan pada teori pendekatan induktif terhadap kepribadian yang memiliki arti  bahwa teori dihasilkan jika tidak dikumpulkan dengan cara yang baik dan komprehensif, hasil yang didapatkan akan memiliki validitas yang terbatas. Banyak peneliti yakin bahwa dasar biologis dari Big Five biasanya akan ditemukan, sebaliknya dimensi big five kebanyakan berasal dari pendekatan leksikal terhadap trait. 

6.  PSIKOPATOLOGI DAN PERUBAHAN PERILAKU
Skala Trait
Karakteristik skor tinggi
Karakteristik skor rendah
Extraversion
Mengukur kuantitas dan itensitas dari interaksi interpersonal, tingkatan aktivitas, kebutuhan akan dorongan, dan kapasitas dan kesenangan.
Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan social, aktif, banyak bicara, orientasi pada hubungan sesame, optimis, fun loving, affectionate.
Tidak ramah, bersahaja, suka menyendiri, orientasi pada tugas, pendiam.
Agreeableness
Mengukur kualitas dari apa yang dilakukan dengan orang lain dan apa yang dilakukan terhadap orang lain.
Lembut hati, dapat dipercaya, suka menolong, pemaaf, penurut.
Sinis, kasar, curiga, tidak kooperatif, pedendam, kejam, manipulative.
Neuroticism
Menggambarkan stabilitas emosional dengan cakupan-cakupan perasaan negative yang kuat termasuk kecemasan, kesedihan, irritability dan nervous tension.
Tenang, santai, merasa aman, puas terhadap dirinya, tidak emosional, tabah.
Cemas, gugup, emosional, merasa tidak aman, merasa tidak mampu, mudah panik.
Openness
Gambaran keluasan, kedalaman,dan kompleksitas mental individu dan pengalamannya.
Ingin tahu, minat luas, kreatif, original, imajinatif,untraditional.
Konvensional, sederhana, minat sempit, tidak artistic, dan tidak analitis.
Conscientiousness
Mengukur tingkat keteraturan seseorang, ketahanan dan motivasi dalam mencapai tujuan. Berlawanan dengan ketergantungan, dan kecenderungan untuk menjadi malas dan lemah.
Teratur, dapat dipercaya, pekerja keras, disiplin, tepat waktu, teliti, rapi, ambisius, dan tekun.
Tidak bertujuan, tidak dapat dipercaya, malas, kurang perhatian, lalai, sembrono, tidak disiplin, keinginan lemah, suka bersenang-senang.




7. ISU-ISU PENTING PSIKOLOGI KEPRIBADIAN – THE BIG FIVE THEORY
Defenisi Cattel mengenai kepribadian memberi kita petunjuk tentang pandangannya terhadap sifat manusia. Dia menyatakan bahwa “Kepribadian adalah suatu yang memungkinkan akan sebuah prediksi tentang apa yang akan manusia lakukan dalam situasi-situasi tertentu”. Untuk membuat prediksi tentang hal-hal yang memengaruhi perilaku, maka hal itu harus sah dan benar-benar baik. Suatu  prediksi akan menjadi sangat sulit jika dibuat tanpa keteraturan dan konsistensi dalam kepribadian.
1.      Free will vs Determunisme
Cattel menyatakan bahwa spontanitas  dalam  prilaku manusia itu sedikit karena spontanitas akan membuat prediksi terhadap prilaku manusia menjadi sulit sebab kita tidak akan pernah tahu apa yang akan manusia lakukan jika semua manusia melakukan segala hal dengan spontan. Sehingga, Cattel menyadari bahwa sifat-sifat manusia lebih cenderung ke arah determinism (dibatasi) dari pada prilaku yang free will (tidak terbatas).
Free Will vs Determinism

2.      Nature vs Nurture
Menurut McCrae dan Costa, mereka lebih menekankan pada sifat yang diturunkan secara biologi (nature) sebagai hal yang mempengaruhi kepribadian daripada hal-hal yang didapatkan melalui pengalaman (nurture). Namun, Cattel berpendapat bahwa baik nature (faktor keturunan) maupun nurture (lingkungan sosial) sama-sama memengaruhi kepribadian seseorang.
Nature vs Nurture

3.      Past vs Present
Cattel mengatakan kita tidak akan memperoleh prediksi perilaku secara utuh bila hanya dilihat dari pengaruh kejadian-kejadian kehidupan yang baru (present experiences). Tetapi Cattel percaya bahwa kejadian-kejadian masa lalu, termasuk masa kanak-kanak kita (past experiences) juga memengaruhi prediksi kepribadian  seseorang secara permanen.
Past Experiences vs Present Experiences


4.      Uniqueness vs Universality
Cattel berpandangan bahwa uniqueness dan universality memiliki posisi yang seimbang. Tidak ditemukan ciri-ciri umum yang berlaku bagi setiap orang dalam suatu budaya dan ciri sifat unik (uniqueness) yang biasanya menggambarkan setiap individu.
Uniqueness vs Universality

5.      Equilibrium vs Growth
Equilibrium vs Growth

6.      Optimistic vs Pesimistic
Cattel memandang sifat manusia dengan lebih jelas. Di tahun-tahun permulaannya, dia sangat optimis tentang adanya suatu kemampuan dalam setiap orang untuk mengatasi permasalahan-permasalahan sosial. Cattel memperkirakan bahwa kita seharusnya memiliki kesadaran besar untuk mengontrol lingkungan hidup kita. Ia mengharapkan untuk dapat melihat kenaikan intelegensi manusia bersamaan dengan perkembangan kehidupan komunitas yang lebih ramah sebagai kreatifitas warga negara yang menduduki suatu tempat. Pada kenyataannya, harapan Cattel tersebut tidak terpenuhi dan akhirnya ia harus percaya bahwa sifat perilaku manusia dan masyarakat mengalami kemunduran.

              Optimism vs Pessimism

8. ASSESSMENT THE BIG FIVE
Setiap individu tentu memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Lima dimensi kepribadian yang dinamakan dengan The Big Five Trait, diantaranya terdiri dari openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism.
            Terdapat beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur Big Five Trait Factors, diantaranya yaitu :
·         BFI (Big Five Inventory)
·         NEO-PI-R (NEO-Personality Inventory Revised)
·         PCI (Personality Characteristic Inventory)
·         AB5C (Abridged Big Five Circumplex)
·         IPIP (International Personality Item Pool)
·         Dll

BFI (Big Five Inventory)
Big Five Inventory  merupakan tes yang terdiri dari empat puluh empat item sebagai usaha untuk menjawab kebutuhan akan tes yang praktis dan singkat yang dapat mengukur dan mengidentifikasi komponen dari Big Five Personality. Empat puluh empat  item dari  Big Five Inventory  dikembangkan dan menjadi representasi dari kelima Public Big Five Personality. Tujuan dari tes ini adalah terciptanya inventori yang ringkas, flexible, dan efisien dalam melakukan penilaian terhadap 5 dimensi dari Big Five Personality.
NEO-PI-R (NEO-Personality Inventory Revised)
            NEO-PI-R adalah sebuah alat ukur yang dikembangkan oleh Costa dan McCrae dengan cara menggunakan kuisioner yang dirancang untuk mengukur Big Five Traits. Mereka membedakan masing-masing dari kelima dimensi kepribadian tersebut dengan mengembangkan enam facet yang sifatnya lebih spesifik. Setiap facet diukur oleh 8 item, maka NEO-PI-R terdiri dari 240 item (5 faktor x 6 facet x 8 item). Kelebihan dari alat ukur NEO-PI-R yaitu sifatnya yang cross cultural sehingga memudahkan untuk mereplikasi jika terdapat budaya-budaya yang berbeda-beda.
IPIP (International Personality Item Pool)
         IPIP website merupakan suatu usaha secara internasional untuk mengembangkan sebuah set inventori kepribadian yang berasal dari item-item domain publik daan skala tersebut dapat digunakan untuk tujuan ilmiah maupun tujuan komersil.






9.  INTERVENSI THE BIG FIVE
   Menggunakan metode faktor-analitik, sifat kepribadian Cattell dan Eyesenck diperoleh angka yang bervariasi. Hal ini tidak menunjukkan adanya kelemahan bawaan, malah merefleksi cara para teoris memilih untuk mengukur kepribadian. Beberapa peneliti kepribadian menunjukkan ketidakpuasan terhadap kedua teori, menunjukkan bahwa Eyesenck mempunyai terlalu sedikit dimensi dan Cattell mempunyai terlalu banyak. Banyak pekerjaan dimasa kini pada umumnya menghasilkan lima faktor luas kepribadian.
Dari sinilah Robert McCrae dan Paul Costa memulai program penelitian mereka sebagai upaya untuk menjelaskan kepribadian dari kecil hingga meninggal, yang diidentifikasi 5 yang disebut kuat atau Big Five Factors, yaitu: OCEAN (Openness, Conscientiousness, Extravertion,  Agreeableness, Neuroticism)
Faktor tersebut dikonfirmasi melalui teknik penilaian yang bervariasi yang termasuk penilaian diri, tes objektif, dan laporan pengamat. Peneliti tersebut lalu mengembangkan tes kepribadian, NEO Personality Inventory (NEO-PI). Penemuan yang sejalan dengan faktor yang sama dari prosedur penilaian yang berbeda menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut bisa diandalkan sebagai pembedaan aspek-aspek dari kepribadian.
Perlu diketahui bahwa walaupun tes-tes yang lain diusulkan sebagai cara untuk mengukur Big Five Factors, NEO-PI tetap menjadi teknik yang sering digunakan. Akan tetapi, para peneliti juga menunjukkan bahwa NEO-PI, seperti tes kepribadian yang lainnya, dapat juga dibuat menyimpang oleh partisipan peneliti behavioristik yang ingin membuat kesan penyesuaian psikologis positif.


3 komentar:

  1. haii. terima kasih buat artikelnya :)
    sangat membantu...

    oh yaa, boleh aku tau darimana aja sumbernya? terima kasih

    BalasHapus
  2. bisa tolong kasih link download alat ukur the big five ga? please..

    BalasHapus
  3. sumber dari mana,mbak? info dong? makasi

    BalasHapus